
KEPRINEWS – Penumpukan sampah yang terjadi di tengah jalan Bintan Center (Bincen) Batu 9, Tanjungpinang, selain menimbulkan dampak buruk lingkungan kotor dan polusi sampah, juga menghilangkan estetika kota serta menurunkan kualitas hidup.
Salah satu warga Tanjunpinang, Dedi, saat membeli nasi ayam di Kedai Kopi Aman, kepada keprinews.co, Rabu (2/4), menyayangkan kesadaran warga yang rendah terhadap masalah persampahan. Ini juga menggambarkan kegagalan pemerintah dalam hal penanganannya.
“Sepanjang jalan trotoar Bincen itu kotor, bahkan di tengah jalan ada penumpukan sampah. Jadi masyarakat yang ngopi di kedai kopi aman melihat pemandangan sampah bertumpuk. Begitu juga para pengendara yang lewat akan melihat pemandangan ini. Bagaimana kalau ada tamu dari luar Tanjungpinang, pasti akan memiliki kesan negatif, bahwa Tanjungpinang kota yang kotor dihiasi sampah,” sedihnya.
Penumpukan bukan pada tempatnya terjadi di sejumlah tempat di Tanjungpinang, termasuk di Jalan Garuda, sampahnya sampai di tengah jalan yang membahayakan pengendara motor.
“Kami minta Pemko Tanjungpinang dapat memprioritas soal kebersihan kota, memperhatikan keindahan kota. Sampah yang menumpuk bukan di tempatnya berserak di sejumlah tempat secara terus-menerus itu menggambarkan gagalnya pemerintah dalam penanganannya,” kata Dedi.
Seirama dengan itu, Lasmi, berdomisi di Batu 10, saat dimintai tanggapan, yang kebetulan berada di Kedai Kopi Aman, menambahkan, sejak satu bulan belakangan ini volume persampahan yang berserak bukan pada tempatnya di Tanjungpinang meningkat.
Untuk apa ada Peraturan Daerah (Perda) tetang sampah yang tidak diimplementasikan, tidak ada perhatian khusus penanganan sampah. Minimalnya imbauan, atau ajakan gotong royong untuk kebersihan.
“Lemahnya pengaturan dibarengi lemahnya kesadaran masyarakat, satu, dua tiga tahun ke depan soal sampah akan lebih memburuk. Kami berharap Tanjungpinang ini bersih, dan terjadi peningkatan kebersihan,” pungkasnya. (jer)